Showing posts with label Update Majalah. Show all posts
Showing posts with label Update Majalah. Show all posts

Monday, June 20, 2016

BEGINI ASAL MUASAL THR JADI TRADISI DI INDONESIA


Hasil gambar untuk THR

Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan menjelang akhirRamadan, tak lain adalah Tunjangan Hari Raya alias THR.
Tahun ini, masyarakat Indonesia patut bersenang hati. Selain karena gaji ke-13 akan dibayarkan sekaligus pada saat pembayaran THR, aturan baru bagi pemerintah untuk memberikan THR bagi karyawan swasta yang baru bekerja satu bulan sudah tentu cukup melegakan.

THR mungkin telah menjadi tradisi di Indonesia. Di negara lain, mungkin tidak berlaku pemberian Tunjangan Hari Raya bagi karyawan menjelang lebaran. Namun omong-omong, sebenarnya sejak kapan tradisi THR mulai berlaku?
Menurut berbagai sumber, pemberian uang tunjangan menjelang Lebaran di Indonesia dimulai pertama kali pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi. Salah satu program kerja kabinet Soekiman yakni meningkatkan kesejahteraan pamong pradja.
Pada masa itu, pemberian tunjangan pada pegawai yakni sebesar Rp 125 -Rp 200 yang setara dengan Rp 1,1 juta-Rp 1,75 juta pada masa sekarang. Tak hanya itu, tunjangan juga diberikan dalam bentuk tunjangan beras tiap bulannya.

Nah, lantaran Tunjangan Hari Raya hanya diberikan pada para pegawai negeri, kaum buruh pun protes. Pada tanggal 13 Februari 1952, kaum buruh menggelar mogok sambil menuntut pemerintah untuk memberikan tunjangan juga bagi mereka. Namun, saat itu pemerintah tak langsung meloloskan begitu saja permintaan kaum buruh.

Lantas, mengapa THR menjadi kebijakan kabinet Soekiman pada masa itu? Ternyata hal ini dikarenakan sebagian besar pegawai negeri pada masa itu terdiri dari para priayi, menak, kaum ningrat, dan lainnya. Dengan harapan mengambil hati pegawai itulah THR diberikan.Nah, sejak itulah THR jadi anggaran rutin pemerintah hingga sekarang.
**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini
**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

KAGET ADA BUAYA BUAS MASUK DISNEY WORLD

Hasil gambar untuk BUAYA ALIGATOR

Peristiwa kematian bocah berumur 2 tahun yang diserang oleh alligator diDisney World, Florida memunculkan banyak tanda tanya. Tak sedikit yang bilang kejadian tersebut merupakan kelalaian orang tua, namun banyak juga yang menyalahkan pihak dariDisney World.

Seperti yang telah diketahui, anak laki-laki bersama keluarganya sedang bersantai di pinggir pantai ketika kejadian tersebut. Tak disangka, seekor alligator menyerang dan menyeret sang anak ke laut. Sang ayah sempat menarik anaknya, namun tak kuasa untuk menahan dan akhirnya terlepas. Keesokan paginya tubuh sang anak ditemukan oleh tim penyelamat.
Banyak yang bertanya, apakah pengelolaDisney World mengetahui bahwa banyakalligator berkeliaran di perairan tersebut? Seperti dilansir dari Goodhousekeeping.com, Senin (20/6/2016), video berikut adalah bukti bahwa sebenarnya alligator banyak berkeliaran di area Disney World.

Bahkan dalam video berikut, posisi alligator sangat dekat dengan para pengunjung yang sedang menaiki salah satu wahana. Dari bahasa tubuh petugas yang ingin mengusir, tampaknya kemunculan seekor alligator di area taman bermain bukanlah hal yang baru. Agar lebih jelas, simak dalam video berikut.

Kejadian yang mengenaskan tersebut telah membuat dari pihak dariDisney World membangun pagar di area kejadian sang bocah diseret. Jika sebelumnya pihak dari Disney World telah mengetahui banyaknya buaya yang berkeliaran di area taman bermain, tampaknya tindakan memasang pagar tersebut terlihat sangat terlambat.

Tuesday, May 10, 2016

Kenyataan di balik robot seks

robot seks
Dalam dua film baru-baru ini, Her dan Ex Machina, para produser film mengeksplorasi konsep yang cukup menantang; apakah manusia bisa jatuh cinta dengan robot atau apakah orang mau berhubungan seks dengan AI (artificial inteligence) -intelejensia artifisial atau robot.
Tentu saja, bukan pertama kalinya orang dikaitkan dengan manusia buatan karena cerita seperti ini sudah ada dalam mitologi Yunani Pygmalion.

Namun di tengah perkembangan AI dan robot yang semakin maju, sejumlah pihak bahkan mengklaim telah merancang robot untuk bercumbu dan berhubungan seks.
Dalam bukunya Love and Sex with Robots, misalnya, David Levy memperkirakan menikah dengan robot akan diresmikan pada 2050.

Terdengarnya seperti semacam revolusi seksual, namun fakta di balik itu lebih rumit. Membuat dan merancang robot untuk hubungan seksual akan lebih sulit dibandingkan dengan yang dibayangkan sebelumnya. Bagaimana caranya meyakinkan orang dan mengatasi berbagai hambatan dalam industri seks.
Satu perusahaan tidak bisa begitu saja menciptakan robot seks tanpa melakukan penelitian dan memperhatikan peraturan terlebih dahulu.

Yang membedakan robot seks dan alat seks

Sebelum kita bicarakan lebih lanjut, mari kita telaah lebih lanjut apa yang dapat dikategorikan sebagai robot seks.

robot seks



Secara teknis, apapun yang memiliki unsur robotik yang dapat dijadikan elemen untuk berhubungan seks. Alat-alat ini sudah ada dalam bentuk mainan seks yang dihubungkan dengan aplikasi yang menstimulasi sensasi. Misalnya alat penggetar yang dapat digerakkan dengan remote control.

"Banyak alat tersedia yang secara anatomi menyerupai manusia dan dapat membantu pengalaman fantasi secara langsung dan lebih mudah dikontrol dibandingkan dengan pasangan," kata Shelly Ronen, peneliti dari New York University, NYU, yang mempelajari, hubungan, seks dan dan mainan seks.

Sebagian mainan ini memang berhasil namun sebagian lain tidak laku di pasar.
Pada tahun 2009, alat yang disebut RealTouch mulai muncul. Alat ini digunakan pria untuk dihubungkan dengan video porno dan menstimulasi sensasi yang dapat dirasakan langsung melalui layar.
Pengalaman seperti ini cukup realistis, menurut kajian situs teknologi Gizmag

robot seks

Tak ada pangsa pasar

Namun RealTouch tak punya pangsa pasar dan setelah muncul kasus tuntutan hak paten pada tahun 2013, alat ini tak lagi dijual.
Bagaimanapun sebagian besar alat ini adalah mainan seks dan bukannya robot. Apa yang dimaksud dengan orang bila membicarakan robot seks adalah robot berbentuk manusia yang dibuat dengan kapasitas bisa melakukan aktivitas seksual.

Saat ini, robot berbentuk manusia yang paling mirip adalah boneka yang dijual oleh perusahaan-perusahaan seperti Abyss Creations di California, Amerika Serikat.
Abyss membuat dan menjual apa yang disebut RealDolls yang disesuaikan dengan bentuk tubuh manusia dan juga 'kepribadian'.

Akan tetapi alat ini masih sangat mahal dan berkisar antara US$5.000 sampai US$10.000 -atau sekitar Rp66 juta sampai Rp132 juta- tergantung pada pesanan orang. RealDolls adalah boneka dan bukan juga robot seks. Paling tidak belum menjadi robot seks.

Dan robot seks -yang bukan sekedar boneka atau juga bukan alat- jelas lebih rumit prospeknya.
"Robot seks memerlukan berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknologi nano untuk membuat sesuatu yang menyerupai kulit sampai AI dengan pengetahuan bahasa," kata AV Flox, seorang wartawan yang meliput isu seks, hukum dan teknologi.
Membuat seks memerlukan teknik tersendiri, mulai dari kulit sampai baterai khusus serta alat pemproses.

robot seks 

Robot seks perlu kulit yang realistis

Pertama-tama, robot seks harus dapat dibuat berdiri. Sampai sekarang boneka seks dan boneka berbentuk manusia berat. RealDolls beratnya bisa mencapai 47 kg dan tidak dapat berdiri.
Robot seks tidak hanya harus dapat berdiri namun juga bergerak sendiri. Tugas ini berat. Para ahli robot masih berusaha untuk mereplikasi gerakan manusia.

Selain itu robot juga memerlukan kulit yang realistik dan siapapun yang menyentuh silikon akan tahu bahwa yang disentuh bukan kulit. Silikon juga sulit dibersihkan.
Mereplikasi bukan hanya mencakup berbagai jenis kulit namun kepekaan dan fleksibilitasnya dan ini sangat sulit.

Bulan Oktober lalu lalu, para peneliti di Singapura mengumumkan mereka telah mengembangkan kulit artifisial yang dapat merasakan tekanan. Namun tidak dapat merasakan suhu dan tidak dapat meregang sehingga tak seperti kulit manusia.

robot seks

Di dalam robot sendiri, para ilmuwan harus mengembangkan kecerdasan buatan atau AI yang dapat berkomunikasi dengan pasangan manusianya.
AI telah dikembangkan baru-baru ini namun masih belum dapat menstimulasi emosi yang diperlukan dalam hubungan.

Komputer bisa mengalahkan manusia dalam main catur, namun seks seperti layaknya berdansa. Pasangan harus dapat memprediski dan menanggapi gerakan. Saat ini, AI dan pemahaman bahasa yang diperlukan masih sangat jauh pengembangannya.
Para pengembang juga memiliki tugas untuk menciptakan robot yang tampak meyakinkan sebagai manusia dan tidak menakutkan.

Bentuk pertama seperti kartun

Madeline Ashby, seorang penulis fiksi sains tentang masa depan mengatakan ia berpendapat robot seks pertama tidak akan sepenuhya tampak seperti manusia.
"Rancangan awal akan tampak seperti karikatur kartun," kata Ashby.
Namun secara keseluruhan untuk membuat seks robot diperlukan tim yang besar, para teknisi, pakar robot, perancang mainan seks, dan pakar komputer.
Tantangannya bukan hanya dari sisi ilmu dan pengetahuan saja namun juga dari sisi pendanaan, hukum dan masalah budaya.

Argumen bagi mereka yang mendukung dan menentang robot seks cukup rumit.
Misalnya, sebagian kalangan khawatir robot seks akan memukul para pekerja seks komersial yang sudah terpinggir sementara pendapat lain menyebutkan robot seks justru akan membuat aman para PSK.
Kampanye menentang robot seks berdasar para argumen bahwa pekerja seks adalah sesuatu yang buruk, pendapat yang ditentang oleh para pekerja seks sendiri dan juga berbagai organisasi seperti Amnesty International.

Konperensi tahunan seks dengan robot dibatalkan

Selain itu juga ada masalah dana. Sulit bagi perusahaan-perusahaan yang bekerja dalam seks industri seks mendapatkan investasi.
Di Amerika Serikat, ada peratursan resmi dan non-formal yang menyulitkan bisnis beroperasi untuk industri kategori dewasa ini.
Bank-bank tidak akan memberikan pinjaman untuk industri kecil, sementara perusahaan kartu kredit akan menolak transaksi.

Aplikasi seperti Apple App store dan Google Play tidak akan menyepakati konten dewasa ini, apakah secara eksplisit atau yang mengandung unsur erotis.
Mesin pencari juga tidak akan menampilkan konten dewasa kecuali bila secara spesifik diminta. Sejumlah konten bahkan justru disaring.

Dan masalah bukan hanya terjadi di Amerika Serikat.
Konperensi tahunan kedua Love and Sex with Robots yang seharusnya diselenggarakan di Malaysia pada November 2015 dibatalkan mendadak karena disebut ilegal.
"Karena kondisi di luar kendali, Konperensi Internasional Kedua Tentang Cinta dan Sex dengan Robot akan ditunda sampai 2016."

Robot seks suatu saat akan tiba dalam bentuk yang memang dirancang sangat khusus. Harganya akan sangat mahal dan akan ada sejumlah peraturan yang perlu dihadapi untuk membuat robot seks.
Rose Eveleth adalah kolumnis untuk BBC Future dan produser podcast Flash Forward, program atas apa yang mungkin terjadi di masa depan.




Mengapa melewati pintu bisa membuat orang lupa?

 

Lupa alasan mengapa Anda memasuki ruangan disebut sebagai “doorway effect”, dan ini mungkin bisa mengungkap banyak tentang kekuatan ingatan manusia, dan juga kelemahannya, kata psikolog Tom Stanfford.
Kita semua pernah mengalaminya. Naik ke lantai atas untuk mengambil kunci, tetapi tiba-tiba lupa apa yang ingin Anda cari begitu masuk ke kamar tidur.
Buka pintu kulkas, dan menggapai rak tengah, lalu menyadari kita tidak ingat untuk apa awalnya kita membuka pintu lemari es.

Atau katakanlah Anda sedang menunggu menginterupsi teman untuk bertanya hal penting, tapi begitu Anda berhasil menyela Anda malah lupa, “apa sih yang tadi ingin saya katakan?”
Kita bertanya pada audiens yang juga terheran-heran, “Lho, mana kami tahu?”
Kejadian semacam itu cukup memalukan, tapi adalah hal yang umum. Disebut “doorway effect”, fenomena tersebut mengungkap fitur penting tentang bagaimana pikiran kita tersusun.

Memahami fenomena ini mungkin membantu kita menghargai momen singkat itu sebagai lebih dari sekadar hal menjengkelkan (walau tentu tetap saja menjengkelkan).
Fitur-fitur yang ada di pikiran kita mungkin bisa digambarkan dengan baik melalui cerita tentang seorang perempuan yang bertemu dengan tiga tukang bangunan pada jam istirahat makan siang.

“Apa yang Anda lakukan hari ini?,” kata perempuan itu pada tukang nomor satu. “Saya menyusun batu bata di atas bata yang lain,” ujar tukang pertama.
“Apa yang Anda lakukan hari ini?” tanyanya pada tukang nomor dua. “Saya membangun tembok,” jawabnya singkat.
Tetapi tukang ketiga merasa bangga ketika ditanya dan dia menjawab, “Saya membangun katedral!”



Mungkin Anda mendengar cerita ini sebagai kisah motivasi untuk melihat gambaran besar, tetapi bagi psikolog, pesan moral yang paling penting adalah tiap aksi harus dipikirkan dalam beberapa level agar menjadi sukses.

Tukang nomor tiga mungkin memiliki pandangan yang paling inspiratif tentang pekerjaan mereka, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa membangun katedral tanpa mengerti bagaimana meletakkan bata di atas bata yang lain dengan sukses seperti tukang pertama.

Selagi kita beraktivitas, perhatian kita beralih dari satu level ke level lainnya – dari cita-cita dan ambisi ke perencanaan dan strategi, hingga ke level paling bawah yaitu aksi konkret.
Ketika semua berjalan lancar, seringnya di situasi yang familiar, kita akan fokus pada hal yang kita inginkan, dan bagaimana meraih itu sepertinya terjadi begitu saja, secara otomatis.
Jika Anda mahir mengemudi, maka Anda akan mengatur gigi, indikator, dan setir secara otomatis dan pikiran Anda mungkin bisa dialihkan ke hal-hal yang tidak rutin seperti mengamati lalu lintas atau berbicara dengan penumpang Anda.

Ketika kita berada di situasi yang tidak biasa, kita harus lebih memperhatikan secara detail apa yang kita lakukan, dan itu sejenak membawa pikiran kita jauh dari ‘gambaran besar’.
Karena itu, percakapan bisa tiba-tiba berhenti ketika pengemudi berada di persimpangan jalan yang riuh atau ketika mesin kendaraan mulai terdengar aneh dari biasanya.

Bagaimana perhatian kita turun dan naik di hierarki aksi inilah yang memungkinkan kita berperilaku kompleks, menyusun rencana koheren di atas berbagai momen, di banyak tempat, atau dengan membutuhkan berbagai aksi.
“Doorway Effect” terjadi ketika perhatian kita beralih dari satu level ke level lain dan itu mencerminkan betapa tergantungnya memori kita – bahkan memori tentang apa yang ingin kita lakukan – pada lingkungan di sekitar kita.



Bayangkan Anda naik ke lantai atas untuk mengambil kunci, lalu tiba-tiba lupa untuk apa Anda naik ke atas begitu Anda memasuki kamar tidur.
Secara psikologis, apa yang terjadi adalah tujuan (yaitu kunci!) terlupakan bahkan ketika kita sedang melakukan tindakan nyata untuk mewujudkannya (yaitu pergi ke kamar tidur!).

Mungkin rencana itu juga bagian dari rencana yang lebih besar (bersiap untuk meninggalkan rumah!), yang tentu adalah bagian dari rencana yang lebih besar dan besar lagi (pergi kerja!, pertahankan pekerjaan Anda!, produktif dan jadilah warga yang bertanggung jawab!, atau lainnya).
Tiap level membutuhkan perhatian di titik tertentu.

Di saat otak kita 'mengemudi' di hierarki yang kompleks ini, kebutuhan untuk mengambil kunci muncul di pikiran, dan -seperti pemain sirkus yang berusaha menjaga piring-piring berputar di atas tiang- perhatian Anda fokus ke hal itu cukup lama untuk mengkonstruksi rencana, tetapi kemudian beralih ke hal lain (seperti berjalan ke kamar tidur, atau bertanya-tanya siapa yang meninggalkan pakaian di tangga lagi, atau apa yang akan Anda lakukan ketika Anda sampai kantor, atau satu juta hal lain yang Anda butuhkan dalam hidup).
Dan kadang piring berputar itu jatuh. Memori kita, bahkan tujuan-tujuan kita, berada di jaring asosiatif.
Ini bisa berarti lingkungan fisik di mana kita membayangkannya, itulah mengapa mengunjungi rumah masa kecil bisa mengingatkan kita pada kenangan-kenangan yang sebelumnya terlupa, atau bisa juga lingkungan mental - rangkaian hal-hal yang kita pikirkan ketika satu hal muncul di kepala.

"Doorway Effect" terjadi karena kita berada pada lingkungan fisik dan mental yang berbeda, bergerak dari satu ruang ke ruang lain dan berpikir tentang banyak hal yang berbeda.
Karena itu, tujuan yang terburu-buru kita raih - yang mungkin hanya satu piring di antara banyak piring yang coba Anda putar - akan terlupakan ketika konteks berubah.
Ini adalah sebuah jendela menuju bagaimana kita mengorganisir untuk mengkoordinasikan tindakan kompleks, mencocokkan rencana dengan aksi sehingga memungkinkan diri kita meletakkan batu bata yang tepat untuk mendirikan 'katedral hidup kita'.

Alasan sebenarnya seseorang menumbuhkan cambang



Anda mungkin berpikir bahwa jika seorang pria menumbuhkan cambang, mereka melakukannya untuk menarik lawan jenis. Tak sesederhana itu.
Dari sisi evolusi manusia, apa sebenarnya fungsi cambang atau brewok?
Anak-anak, perempuan, dan banyak pria bisa hidup tanpa cambang, tapi kini tengoklah di sekitar Anda. Cambang dalam berbagai jenis dan bentuk, dari yang terawat sampai tak terawat bisa dilihat – dari cambang yang setengah tumbuh atau designer stubble sampai kumis yang dipakaikan wax agar kaku dan brewok gaya hipster.

Saat seorang pria memperhatikan penampilan, kita langsung berasumsi mereka melakukannya untuk menarik lawan jenis.
Namun penelitian kami soal brewok dan suara menunjukkan bahwa rambut di wajah seseorang ini adalah bagian dari evolusi untuk membantu para pria berada di posisi yang lebih unggul dibandingkan pria lainnya.

 

Jika dibandingkan antara jantan dan betina pada primata lain, pria dan wanita tampak sangat berbeda antara satu sama lain – salah satu sebabnya adalah rambut di wajah pria.
Dan saat kita melihat perbedaan antara pria dan wanita, perbedaan itu muncul akibat evolusi lewat seleksi seksual, atau proses yang memilih sifat atau fitur yang memperbesar peluang berkembang biak.
Yang menarik, perempuan tak terlalu tertarik pada cambang atau brewok.

Meski ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa perempuan sedikit atau sangat menyukai brewok pada seorang pria, namun penelitian lain menemukan bahwa perempuan lebih suka tampilan klimis.
Bukti-bukti yang tidak konsisten ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa menyimpulkan brewok muncul karena ketertarikan perempuan terhadap fitur tersebut.
Peneliti pun menyarankan kemungkinan jawaban akan keberadaan brewok ada pada seleksi seksual jenis kedua.

Untuk bisa bereproduksi, tak cukup sekadar menjadi menarik, pria juga harus bersaing dengan pria lain untuk memperebutkan kesempatan kawin.
Pria pemalu yang berdiri di bagian belakang bar hanya punya peluang kecil jika dibandingkan dengan pria-pria lain yang lebih berani. Dan ada bukti yang menunjukkan bahwa cambang membantu pria untuk lebih menonjol.

Kemampuan pria menumbuhkan cambang secara penuh tidak dengan mudah terkait ke jumlah testosteron yang dimiliki pria tersebut.
Terlepas dari ini, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa baik pria dan wanita melihat pria dengan brewok sebagai sosok yang lebih tua, kuat dan lebih agresif dibanding pria lain.

 

Dan pria yang dominan lebih berpeluang mendapat pasangan dengan mengintimidasi saingannya agar minggir.
Fakta ini masih berlaku baik di dunia modern atau sepanjang sejarah manusia.
Faktor dominasi memberi jalan pintas bagi kesempatan kawin: bukti genetis menunjukkan bahwa sekitar 8% dari populasi pria di Asia adalah turunan Genghis Khan dan keluarganya.
Penelitian dari Nigerl Barber mengaitkan antara gaya brewok di Inggris antara 1842 sampai 1971 dengan rasio antara laki-laki dan perempuan yang mencari pasangan. Ternyata, pada masa-masa di mana ada lebih banyak proporsi pria lajang yang memperebutkan perempuan, di masa itu pula brewok dan kumis sedang tren.
Tetapi brewok bukan satu-satunya hal yang menunjukkan dominasi – suara juga punya pengaruh yang sama.
Orang cenderung memilih pemimpin dengan suara bernada lebih rendah, dan pada tugas-tugas kompetitif, pria akan menurunkan suaranya jika mereka merasa lebih dominan dibanding lawannya.
Sama halnya seperti rambut di wajah, nada suara dengan mudah membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Untuk membantu menelusuri jejak evolusi awal dari brewok dan suara, kami menguji apakah fitur-fitur tersebut dianggap menarik, dominan atau keduanya.
Kami menanyakan pada 20 pria dan 20 wanita untuk memberi skor dominasi atau ketertarikan dari enam laki-laki yang direkam dalam empat kesempatan berbeda, seiring pertumbuhan brewok dan kumis mereka.




Kemudian kami menggunakan program komputer untuk membuat empat versi dari masing-masing video untuk mengubah suara pria-pria tersebut menjadi lebih tinggi atau lebih rendah.
Kami menemukan bahwa suara pria yang terdengar lebih dalam daripada rata-rata suara, dianggap paling menarik.

Suara yang sangat dalam atau tinggi tak terlalu populer. Semakin rendah suara pria, mereka dianggap semakin dominan.

Brewok tak menambah daya tarik secara konsisten, tapi mereka yang menumbuhkannya dianggap lebih dominan – temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya.

Ketegangan yang muncul dari upaya menarik lawan jenis dan saling bersaing dengan pria lain tak hanya terbatas pada brewok dan suara.

Rata-rata pria juga berpendapat bahwa badan mereka harus jauh lebih berotot daripada yang diharapkan perempuan, sementara rata-rata perempuan percaya mereka harus lebih kurus dan mengenakan riasan wajah lebih banyak daripada yang sebenarnya diharapkan oleh pria.

Ternyata kita tak selalu tepat dalam menilai apa yang dianggap menarik oleh lawan jenis, tapi mungkin itu sebagian karena insting kita juga berkembang dalam upaya untuk mengungguli sesama jenis sekaligus juga berusaha menarik pasangan.

Tentu saja, sebagian besar penelitian ini dilakukan di penduduk negara Barat.
Penggunaan riasan wajah, komposisi tubuh rata-rata, dan kemampuan menumbuhkan cambang berbeda di seluruh dunia – artinya bisa muncul hasil yang berbeda-beda di seluruh dunia.
Namun intinya, entah itu cambang atau hal lain, kita melihat pola persaingan yang merujuk pada perbedaan tampilan.
Kita tak pernah bisa memuaskan semua orang setiap saat.




Sit-up ternyata punya efek merugikan




Kita berpikir bahwa sit-up yang menyiksa adalah cara untuk mendapatkan perut berotot. Benarkah? Atau sit-up justru akan berbahaya?

Jika Anda tak suka menghabiskan waktu melakukan sit-up, maka kami punya kabar baik.
Peneliti kini tak hanya berdebat soal apakah sit-up bermanfaat, tapi juga mengenai apakah olahraga ini punya dampak buruk bagi Anda.

Apakah sit-up memberi perut six-pack atau apakah perut rata lebih karena diet dan olahraga secara umum, dan bukan satu rutin khusus?

Tinjauan dari berbagai penelitian yang dilakukan mengenai sit-up menunjukkan bahwa aktivitas ini meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot dan, pada anjing, meregangkan tulang belakang terbukti mengantarkan nutrisi pada cakram-cakram yang bisa mengurangi kekakuan.

Sejauh ini, baik-baik saja. Tapi untuk mendapatkan perut enam bidang -six pack yang diinginkan membutuhkan banyak usaha.

Dalam uji coba kecil yang acak dan terukur di Illinois pada 2011, sebuah kelompok melakukan latihan perut harian sementara grup lain yang beruntung tak harus melakukan apa-apa.
Setelah enam minggu pengukuran rinci, ditemukan bahwa ternyata sit-up tak berpengaruh pada ukuran lingkar pinggang atau jumlah lemak di sekitar perut.

Banyak penyuka olahraga yang melakukan sit-up sebagai bagian dari serangkaian latihan yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas otot inti, namun penelitian dari Thomas Nesser di Indiana State University menemukan bahwa meningkatkan stabilitas otot inti tak selalu menghasilkan performa atletik yang lebih baik.
Terlepas dari bisa atau tidak sit-up menghasilkan bentuk fisik atau tingkat kebugaran yang Anda inginkan, tapi bisakah sit-up menghasilkan akibat yang tak diinginkan seperti sakit punggung?

Stuart McGill, profesor biomekanik tulang belakang di University of Waterloo di Canada sudah mempelajari sit-up selama bertahun-tahun dan yakin bahwa olahraga ini memang membahayakan kita.
McGill melakukan serangkaian penelitian di lab biomekanika tulang belakangnya menggunakan bangkai babi, dan berulangkali meregangkan tulang belakang babi tersebut dengan cara yang sama seperti saat seseorang melakukan sit-up, tapi dalam waktu berjam-jam.








Saat dia memeriksa cakram di tulang belakang, McGill menemukan bahwa bagian tersebut diremas sampai menggembung. Jika hal yang sama terjadi pada manusia, maka ini akan memberi tekanan pada saraf, menyebabkan sakit punggung, dan bahkan hernia.

Bangkai babi digunakan untuk eksperimen ini karena tulang belakangnya mirip dengan manusia dibanding hewan-hewan lain, tapi tentu saja, pengamat penelitian ini mengingatkan bahwa ada banyak perbedaan antara manusia dan babi. Selain itu, penelitian ini melibatkan siklus membungkuk yang tanpa henti.
Bahkan jika seseorang berolahraga keras pun, mereka akan tetap mengambil jeda di antara rangkaian latihan.

Bisa jadi hasil-hasil ini menunjukkan hasil ekstrem yang mungkin terjadi jika Anda melakukan sit-up terus-menerus selama berjam-jam, tapi di kehidupan nyata, tentu sebagian besar orang tak akan terluka saat melakukan satu rangkaian yang terdiri dari 15 kali sit-up.

Tetapi, kecelakaan bisa terjadi. Penelitian yang diterbitkan pada 2005 terhadap tentara yang ditempatkan di markas militer AS, Fort Bragg, menyebut bahwa 56% cedera yang muncul saat Tes Kebugaran Fisik Militer berasal dari sit-up.

Beberapa orang cenderung lebih sensitif terhadap masalah punggung akibat sit-up dibanding penyebab lain.
Bisa saja kita melakukan 30 sit-up sehari selama berpuluh-puluh tahun dan tidak mengalami cedera sedikitpun, atau kita bisa mengalami cedera, dan sulit untuk mengetahui kita masuk ke kategori mana. Masalahnya bisa berakar pada gen kita.

Menurut satu penelitian, bukan soal frekuensi melakukan sit-up yang menimbulkan kesulitan, tapi faktor genetik yang menjadi penyebab tiga perempat perbedaan antara orang-orang yang mengalami masalah punggung dan mereka yang baik-baik saja.

Penelitian Tulang Belakang Orang Kembar memantau pasangan kembar di Finlandia, Kanada dan AS sejak 1991.
Peneliti menemukan bahwa faktor genetik memainkan peran besar dalam penurunan fungsi cakram di punggung mereka. Bahkan saat salah satu dari si kembar punya pekerjaan mengangkat beban berat, sementara yang lainnya melakukan kerja kantoran, frekuensi mereka mengalami sakit punggung kurang lebih sama.

 

Jadi sit-up mungkin menyebabkan sakit punggung, tapi hanya pada beberapa orang. Dan ini adalah alasan yang tepat untuk tak melakukan sit-up.

Tapi bagaimana jika Anda ingin perut berotot, adakah cara untuk mengurangi risikonya?
Profesor Stuart McGill merekomendasikan agar Anda menyelipkan tangan di pinggang bawah untuk mencegah agar punggung rata dengan lantai.

Langkah ini bisa mengurangi tekanan di punggung. Tekuk satu lutut dan panjangkan lutut satunya. Lalu angkat sedikit kepala dan bahu dari lantai
.
Katanya, bayangkan kepala Anda bersandar di timbangan badan dan kepala Anda angkat agar angka di timbangan menunjukkan nol.

Latihan ini dia gambarkan secara mendetail di bukunya, Back Mechanic.
Dalam tinjauannya di penelitian sit-up, Bret Contreras dari Auckland University of Technology di Selandia Baru menyarankan untuk membatasi melakukan latihan tulang belakang hanya 60 kali per sesi, awalnya dengan 15 lalu meningkat secara perlahan.

Selain itu, setelah kita berbaring semalaman atau duduk untuk waktu lama, akan lebih sulit melakukan sit-up sehingga meningkatkan risiko cedera.
Maka jangan langsung melakukan sit-up setelah kita duduk seharian di kursi atau langsung melakukannya saat bangun tidur.

VISITOR TRAFIC